Pemandangan beragam di Tokyo: Dari kota masa depan hingga pertokoan retro. THE ASAHI SHIMBUN
December 25, 2025
PR by The Asahi Shimbun
(Tokyo Convention & Visitors Bureau grant project)

Kaminarimon di Kuil Senso-ji (kiri) dan Persimpangan Shibuya Scramble© Tokyo Convention&Visitors Bureau (kanan).
Kaminarimon di Kuil Senso-ji (kiri) dan Persimpangan Shibuya Scramble© Tokyo Convention&Visitors Bureau (kanan).

Kota seperti apakah Tokyo itu? Meski pertanyaan itu diajukan, sulit untuk menceritakannya hanya dalam satu kata. Hal ini karena Tokyo merupakan kumpulan dari 23 distrik khusus serta beberapa kota dan desa termasuk pulau-pulau, yang masing-masing areanya memiliki wajah yang sama sekali berbeda. Kali ini, di antara area-area tersebut, kami ingin mengajak Anda ke Shibuya yang melaju kencang menuju masa depan, dan Asakusa yang terus mengukir sejarah. Jika berjalan di dua kota yang kontras ini, kedalaman pesona Tokyo pasti akan terlihat.

Diundang oleh lampion raksasa ke Kuil Senso-ji yang berusia 1.400 tahun.

Pada suatu pagi yang cerah dan nyaman di bulan Oktober, saya menuju Kuil Senso-ji, tempat wisata terkenal yang mewakili Tokyo. Asakusa terletak di bagian timur laut pusat kota. Stasiun Asakusa sangat nyaman diakses karena dilalui oleh 4 jalur kereta. Dari stasiun mana pun, Anda bisa sampai ke pintu masuk Kuil Senso-ji, “Kaminarimon”, hanya dengan berjalan kaki beberapa menit.

Kaminarimon di Kuil Senso-ji yang ramai dengan wisatawan = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Kaminarimon di Kuil Senso-ji yang ramai dengan wisatawan = Asakusa, Kuil Senso-ji.

Bagian depan Kaminarimon sudah dipadati oleh banyak wisatawan asing. Sebelum masuk ke dalam, saya ingin sedikit menyinggung tentang sejarah Kuil Senso-ji.

Sejarahnya bermula pada tahun 628, ketika dua bersaudara yang sedang mencari ikan di Sungai Sumida yang mengalir di dekat kuil, mengangkat sebuah patung kayu dari dalam jaring mereka. Seorang tokoh berpengaruh setempat mengenali patung itu sebagai patung Bodhisattva Kannon (Dewi Kwan Im), dan kemudian mulai memujanya. *1

Pada zaman Edo, kuil ini dilindungi sebagai tempat berdoa untuk kedamaian ke-shogun-an. Meskipun Aula Utama dan bangunan lainnya terbakar habis dalam serangan udara Tokyo pada Maret 1945, patung Kannon selamat karena telah "dievakuasi" sebelumnya. Aula Utama yang sekarang adalah bangunan beton bertulang yang dibangun kembali pada tahun 1958. *2

(*1, 2) Sumber: Kuil Senso-ji (https://www.senso-ji.jp/about/chronology.html)

Menghadap ke Kaminarimon, di sebelah kanan adalah patung Dewa Angin (Fujin), dan di kiri adalah patung Dewa Petir (Raijin). Nama resmi Kaminarimon adalah “Furaijin-mon” (Gerbang Dewa Angin dan Petir) = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Menghadap ke Kaminarimon, di sebelah kanan adalah patung Dewa Angin (Fujin), dan di kiri adalah patung Dewa Petir (Raijin). Nama resmi Kaminarimon adalah “Furaijin-mon” (Gerbang Dewa Angin dan Petir) = Asakusa, Kuil Senso-ji.

Di tengah keramaian, saya melewati simbol Asakusa, “Kaminarimon”. Lampion merah yang tergantung di tengahnya memiliki tinggi 3,9 meter dan berat 700 kilogram. Di kedua sisinya ditempatkan patung Dewa Angin dan Dewa Petir untuk melindungi kuil dari bencana angin dan banjir. *3

(*3) Sumber: Kuil Senso-ji (https://www.senso-ji.jp/about/chronology.html)

Seolah kembali ke masa lalu, jalan pertokoan yang penuh nuansa kota tua.

Nakamise yang penuh dengan suasana kota tua (shitamachi) = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Nakamise yang penuh dengan suasana kota tua (shitamachi) = Asakusa, Kuil Senso-ji.

Setelah melewati Kaminarimon, terdapat “Nakamise”, deretan toko berwarna merah terang yang membentang sekitar 250 meter. Berbagai aksesoris khas Jepang yang berwarna-warni, kue beras (senbei), bakiak (geta), kipas tangan (uchiwa)… Suasananya meriah seperti festival sehingga meski hanya santai lihat-lihat saja sama sekali tidak membosankan.

Gerbang dalam Kuil Senso-ji, “Hozomon”. Di belakangnya terlihat Pagoda Lima Tingkat (kiri) = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Gerbang dalam Kuil Senso-ji, “Hozomon”. Di belakangnya terlihat Pagoda Lima Tingkat (kiri) = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Patung Nio ditempatkan di kiri dan kanan Hozomon. Menghadap ke gerbang, di sebelah kiri adalah patung Agyo (mulut terbuka), dan di kanan adalah patung Ungyo (mulut tertutup) = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Patung Nio ditempatkan di kiri dan kanan Hozomon. Menghadap ke gerbang, di sebelah kiri adalah patung Agyo (mulut terbuka), dan di kanan adalah patung Ungyo (mulut tertutup) = Asakusa, Kuil Senso-ji.

Setelah melewati Nakamise, kali ini saya disambut oleh gerbang dua lantai berwarna merah terang. Itu adalah gerbang dalam Kuil Senso-ji, "Hozomon". Di sini juga tergantung lampion raksasa di tengahnya. Di sisi kiri serta kanan ditempatkan dua patung Nio, yaitu patung Agyo dengan mulut terbuka lebar dan patung Ungyo dengan mulut tertutup.

Di bagian belakang gerbang, terdapat sandal jerami (waraji) raksasa milik Nio, jadi pastikan untuk menoleh ke belakang setelah melewati gerbang. Berfoto bersama Tokyo Skytree® yang terlihat kecil di arah tenggara juga sangat direkomendasikan.

Di bagian belakang gerbang dalam “Hozomon” Kuil Senso-ji, tergantung sandal jerami raksasa milik Nio = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Di bagian belakang gerbang dalam “Hozomon” Kuil Senso-ji, tergantung sandal jerami raksasa milik Nio = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Mengocok kotak ramalan lalu menarik batang yang bertuliskan nomor (kiri atas). Lalu buka laci sesuai nomor yang tertera di batang dan ambil kertas (kanan atas). Kertas tersebut berisi nasib dan saran (kanan bawah). Kertas juga boleh diikatkan di tempat pengikatan di area kuil (kiri bawah).
Mengocok kotak ramalan lalu menarik batang yang bertuliskan nomor (kiri atas). Lalu buka laci sesuai nomor yang tertera di batang dan ambil kertas (kanan atas). Kertas tersebut berisi nasib dan saran (kanan bawah). Kertas juga boleh diikatkan di tempat pengikatan di area kuil (kiri bawah).

Saya menemukan tempat ramalan (omikuji) di area kuil, jadi saya membayar 100 yen untuk mencobanya. Ternyata hasilnya “Dai-kichi” (sangat beruntung). Karena tertulis “keinginan akan terkabul”, saya menjadi sangat senang. Dengan langkah ringan saya melaju, dan akhirnya tiba di Aula Utama tempat patung Kannon diabadikan. Di depannya, terdapat kerumunan orang yang mencoba memandikan diri dengan asap dari pembakar dupa besar. Konon jika terkena asap ini, bagian tubuh yang sakit akan membaik.

Aula Utama Kuil Senso-ji. Tempat ini dikenal dengan antrean panjang saat kunjungan doa tahun baru (Hatsumode) mulai tanggal 1 Januari = Asakusa, Kuil Senso-ji.
Aula Utama Kuil Senso-ji. Tempat ini dikenal dengan antrean panjang saat kunjungan doa tahun baru (Hatsumode) mulai tanggal 1 Januari = Asakusa, Kuil Senso-ji.

Setelah membersihkan diri di tempat air, saya menangkupkan tangan berdoa di Aula Utama. Bodhisattva Kannon yang diabadikan di sini adalah "Hibutsu" (Buddha Tersembunyi) yang sama sekali tidak diperlihatkan kepada publik. Seperti apa ya wujudnya—sambil membayangkan hal itu di dalam kepala, saya menuruni tangga Aula Utama perlahan-lahan.

Information

Situs Bahasa Inggris Asakusa/Kuil Senso-ji
https://www.senso-ji.jp/english/

Paling padat di dunia!? Persimpangan Shibuya Scramble yang terkenal.

Persimpangan Shibuya Scramble saat senja. Penuh dengan wisatawan asing yang mengambil foto dan video dengan smartphone di tangan = Shibuya.
Persimpangan Shibuya Scramble saat senja. Penuh dengan wisatawan asing yang mengambil foto dan video dengan smartphone di tangan = Shibuya.

Setelah menikmati pemandangan kota yang bersejarah, mari menuju Shibuya. Dengan pembangunan ulang skala besar di sekitar stasiun, pembangunan kota yang sadar akan masa depan sedang berlangsung.

Begitu keluar dari Pintu Pemeriksaan Karcis Pusat Stasiun JR Shibuya, Persimpangan Shibuya Scramble yang terkenal di dunia terbentang di depan mata. 10 jalur mobil bersilangan dan 5 penyeberangan jalan ditarik di sana. Disebut sebagai "persimpangan paling padat di dunia", sungguh mengejutkan bahwa jumlah penyeberang dalam sekali lampu hijau bisa mencapai lebih dari 1.000 orang. Di seberang penyeberangan terdapat pusat hiburan dan fasilitas komersial yang populer di kalangan anak muda.

Persimpangan ini menjadi model scramble seperti sekarang pada tahun 1973 *4. Setelah itu, tempat ini menjadi lokasi syuting film dan hal lainnya, sehingga popularitasnya meningkat secara global. Karena sering disiarkan dalam prakiraan cuaca dan program berita, tempat ini telah menjadi salah satu wajah yang melambangkan Jepang modern.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Saat melihat sekeliling, tempat itu dipenuhi orang-orang yang memegang smartphone untuk mengambil foto kenang-kenangan atau video. Seolah-olah muncul dalam adegan film. Wajar jika merasa bersemangat, tetapi ini adalah persimpangan jalan. Karena bisa bertabrakan jika terlalu asyik memotret, kita harus berjalan dengan hati-hati.

(※4) Sumber: Asahi Shimbun

Dulu pusat budaya anak muda, sekarang jadi basis bisnis.

Di sudut persimpangan yang ramai itu pun terlihat antrean. Saya mengintip dan terkejut. Sosok yang melayani foto bersama di tengah kerumunan itu adalah "Patung Anjing Setia Hachi”.

Patung Anjing Setia Hachi yang terkenal sebagai tempat bertemu = Shibuya.
Patung Anjing Setia Hachi yang terkenal sebagai tempat bertemu = Shibuya.

Patung perunggu ini bermodelkan Hachi, seekor anjing Akita yang mengantar jemput tuannya ke Stasiun Shibuya sebelum masa perang. Bahkan setelah tuannya meninggal, Hachi dikabarkan terus datang ke Stasiun Shibuya menunggu kepulangannya. Kisah ini juga menjadi model untuk film Amerika. Sekarang tempat ini populer sebagai spot wisata. Sebelum telepon genggam tersebar luas, tempat ini terkenal sebagai tempat bertemunya anak muda. Shibuya yang dulunya pusat budaya anak muda, kini mengalami pembangunan ulang dan mulai menjadi basis bisnis tempat berkumpulnya perusahaan IT dan startup.

Tower Records dengan bangunan kuning dan neon merah yang bersinar = Shibuya.
Tower Records dengan bangunan kuning dan neon merah yang bersinar = Shibuya.

Saya mencoba melangkahkan kaki ke satu lagi spot yang melambangkan Shibuya. Berjalan kaki sekitar 3 menit ke arah barat laut dari persimpangan Scramble. Itu adalah Tower Records yang memasang papan bertuliskan “NO MUSIC, NO LIFE.”. Tahun ini genap 30 tahun toko ini berdiri di Jinnan, Shibuya. Dikenal sebagai “tanah suci musik barat”, toko ini telah mencurahkan tenaga untuk menemukan dan membina artis, serta menopang budaya musik Jepang.

Mulai November tahun ini, renovasi skala besar akan dimulai di setiap lantai. Pada Februari 2026, rencananya toko ini akan terlahir kembali sebagai “toko musik tipe pengalaman baru” di mana musik, budaya, dan penggemar saling bersilangan. Kabarnya bidang "Oshi-katsu" (budaya fandom) dan “K-POP” akan diperkuat.

Nah, karena matahari sudah mulai terbenam, mari kita akhiri jalan-jalan kali ini di sini. Saya akan senang jika pemandangan Tokyo yang saya perkenalkan hari ini membekas di ingatan Anda. Bagaimana jika Tokyo menjadi tujuan perjalanan Anda berikutnya?

Information

Panduan Bahasa Inggris Tower Records Cabang Shibuya
https://towershibuya.jp/access